Waheshna ya Rasool Allah

I’ve questioned for so long, tell me how could this be?!
How could we love someone whom our eyes have never seen?!
If he is truly dear to you
Follow him, and in Paradise you will be with him

My tears rolling down my cheeks when I first watch and heard this song..To understand the lyrics and feeling it inside my heart makes me miss our prophet even more…  The lyrics and video really express my thoughts and prayers.. Subhanallah.. guide me to do good for the sake of you..

For so many years my biggest dream has been
To visit the Chosen One even just once

DUA IDEAS FOR ARAFAH

Have you made your list of Duas to ask of Allah? Here are some you can include in your list, Insha Allah:

1. Ya Allah grant me Ultimate Success -safety from the Fire and entry into Jannathul Firdous

2. Ya Allah make me and my family of those companions of the Right. Who receive the book of deeds in our right hands.

3. Ya Allah, Grant me a blessed death. Let me utter the shahada before I die. Grant me the intercession of Prophet (Sal).

4. Ya Allah grant me the companionship of Prophet (Sal), his family and the Sahaba’s in Jannathul Firdous.

5. Ya Allah save my non Muslim friends from the Fire. Guide them to Islam.

6. Ya Allah, reunite me in Jannathul Firdous with those whom I love for Your sake alone.

7. Ya Rabb, perfect my Deen and my Worship. Save me from Faahisha and let me complete half of my Deen.

8. Ya Allah accept my good deeds and increase me in reward and Your Mercy. Wipe away my sins and pardon me completely. Shower your Mercy upon me and save me from disgrace on the Day of Reckoning.

9. Ya Allah, when I die, let my soul and my record of Deeds be with the Illiyeen.

10. Ya Allah grant me, my parents, family and children guidance, steadfastness and increased Imaan.

11. Ya Allah, make me of the few You love, You Pardon and You shade on a Day when there is no shade but from Your Majestic Arsh (Throne).

12. Oh my Lord, increase me in Yakeen and Tawakkul in you. Let there be no doubt in my belief in Your Oneness, Your Majesty and Power.

13. Ya Allah increase me in my love for You and Your Prophet (Sal).

14. Ya Allah forgive me and increase me in Your Blessings and Provisions.

15. Ya Allah lead me to more opportunities to do good and seeking Your Pleasure.

16. Ya Rabb, Purify my intentions for Your Sake alone and let me not show off or take false pride. Save me from arrogance, pride, showing off and reminding of favors.

17. Oh my Creator and Sustainer, do not leave me alone. Bless me with a righteous spouse and children who will be the coolness of my eyes.

18. Oh my Lord, make me of those who are patient and obedient to You and to my parents.

19. Save me from the Fitnah of Dajjal.

20. Save me from the punishment of the grave and the punishment of the Hell Fire.

21. Ya Allah, increase me in Sadakathul Jariya work.

22. Ya Allah, bless me with good health, so I can make sajdah with ease till my dying day.

23. Ya Allah, protect me and the Muslim Ummah against wicked oppressors. Save us from Fitnah and give us ease in our times of trial.

24. My Lord, bless me with the best in this world, the best in the Hereafter and save me from the fire. I am indeed in need of the good You have in store for me.

25. Ya Allah increase me in gratitude towards You alone.

26. Oh my Rabb, save me from hypocrisy.

27. Ya Allah, let me and my spouse be among the pilgrims to perform Hajj in 2015.

28. Ya Allah protect me against Evil Jinns and Spirits. Safeguard me from their evil incitements and plots.

29. Ya Allah forgive and have Mercy upon my parents, as they looked after me when I was young.

30. Ya Allah, I pray and beg of you for the guidance of the Muslim Youth and Ummah. Save us all from Kufr, Despair, Misdeeds and Shirk.

31. Ya Allah grant me the strength to battle laziness and sleep, so I may wake up for Tahajjud and Fajr daily.

KETIKA ANAK BERTANYA TENTANG ALLAH

Allah itu Siapa?
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe).

Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Jawablah:
“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”
Jangan jawab begini:
“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:
“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“
Jangan jawab begini:
Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid (57) : 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧)

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini:
“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”

Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:
“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”
[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)

“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”
Jangan jawab begini:
“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:
“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”
(Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]

Katakan juga pada anak:

“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”

“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”

Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

Allahu a’lam.

sumber : “ Mutiara Hikmah

JANGAN ikut BUDAYA Melayu. IKUT apa yg Nabi AJAR.

JANGAN ikut BUDAYA Melayu. IKUT apa yg Nabi AJAR.

Cerita penceramah & pakar kaunseling rumahtanggTUAN HJ HUSSIM, sahabat baik Dato Fadzilah Kamsah. Dia mengaku sgt bahagia bersama isterinya…
Katanya,” Sy bangga nak bagi tahu semua, dulu waktu anak-anak kecik, sayalah tukang cuci punggung anak2, salin lampin, sampai anak pancut kat muka, sayalah tukang basuh baju lampin semua…tu kerja saya…Isteri sy kata, “abg, malam2 abg ambik alih buat kerja tu semua ok”…kita sama2 kerja.

“Saya nak bagit ahu, dalam rumahtangga, suami kena rajin. Tak boleh malas…Lani dah senang, baru saya cari pembantu kat isteri saya. Tapi saya bangga nak bagi tahu itu yg sy buat dalam rumhatangga selama ini. Jemur baju kat luar, jiran sebelah tegur. Semua tu kerja saya dan sy tak malu mengaku..”

Berforum pula sy dgn USTAZ NIZAM KADIR, katanya..
😎suami kena rajin, sampai siapkan makan untuk isteri sampai isteri boleh mkn,
😎siapkan pakai sampai suami tolong iron baju isteri,
😎siapkan rumah sampai suami yg jaga kebersihan rumah, mengemas semua suami,

Habis isteri?
Isteri sediakan diri untuk suami, bercantik2, picit2 suami, bermuka manis.
Kalau isteri buat kerja rumah, isteri dapat pahala.

Sebab tu kalau sama2 kerja, sama2 buat, tapi suami kena lebih sebab tu memang tanggungjawab suami.

Isteri kalau buat lebih, suami jangan lepas tgn pula, kena ada belas kasihan sebab ni bukan tugas isteri. Tapi hari ini perempuan buat kerja sampai tak ada masa rehat langsung, Mana tak tarik muka, mana muka tak nampak penat. Mana tak komplen suami. Macam mana nak bahagia rumahtangga?

Kita hari ni org Melayu nampak suami buat lebih sikit, kita kata isteri dia queen control, Padahal itu yg Islam suruh. Org perempuan buatlah kerja macam2, dlm hati dok menyumpah seranah, dalam hati dok kata nak redho tapi tak ikhlas2 juga, sia2 saja.Last2 penat dpt, dosa pun dpt”

USTAZ ZAHAZAN MOHAMAD:
“Menurut pendapat masyhur kalangan EMPAT MAZHAB, seorang isteri tidak diwajibkan melayani suaminya iaitu menyediakan makan, mencuci pakaian dan seumpamanya.
Seandainya isteri melakukannya, ia hanyalah sebagai kesopanan atau akhlak mulia terhadap suami. Bukan kerana kewajipannya.

Oleh itu, jika suami menuntut isterinya atas masalah ini ke pengadilan syariah, maka tetap isteri tidak boleh dipaksa (tidak diwajibkan) melayani suaminya. Maka, sangatlah adil kalau suami bekerja, memeras keringat untuk menanggung kehidupan keluarganya. Sedangkan isteri bekerja d i rumah melayani kepentingan keluarga.

Jika isteri bekerja di luar rumah (sama2 mencari nafkah) , maka sudah seharusnya suaminya turut membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah. Apalagi jika mereka mempunyai anak yang masih kecil”

Jika kita tiada ilmu, jangan kita memandai-mandai menjatuhkan hukum semua urusan rumahtangga adalah kewajipan isteri.

Ikutlah acuan yg Nabi ajarkan. Saidatina Aisyah melaporkan Nabi ketika di rumahnya, bagindalah yang paling bnyk senyum pada isterinya, yg paling bnyk khidmat dan buat kerja rumah untuk isterinya….

Menjadi wanita tidak penat. Jika suami faham tanggungjawab.
Menjadi suami tidak penat, bilamana semua beban kerja hilang dgn melihat senyuman, kecantikan dan kasih syg seorang isteri.

Adilnya Islam bila kita sama2 membantu…sama2 memuliakan antara satu sama lain.

SEMOGA ALLAH AMPUNKAN KITA SEMUA

Forgotten Heroines

Money is tight. The kids are demanding. Skin is raw from all the cooking, cleaning, and chores that have to be done every day. There’s absolutely no time to spare for anything else, whether it’s pursuing further education or volunteering for a special cause.

Does this sound familiar? There are Muslim women all over the world who find themselves at home, living life as domestic stay-at-home moms and housewives. It’s a physically and emotionally demanding job, but it’s also a pretty thankless one. How can spending all day serving others, instead of being involved in some kind of noble, public cause, ever be truly fulfilling and worth recognition – not just by people, but by Allah Himself?

Fatimah bint Muhammad is known to be one of the four most perfect women in the entire world.

“Prophet Muhammad (sall Allahu alaihi wa sallam) drew four lines and said to the Companions, “Do you know what these are?” They said, “Allah and His Messenger know best.” He said, “The best women of the women of Paradise are Khadeejah bint Khuwaylid, Fatimah bint Muhammad, Maryam bint Imran, and Aasiyah bint Muzahim (the wife of the Pharaoh).” (Ahmad)

Yet when we look at the biography of Fatimah bint Muhammad (sallAllahu ‘alayhi wa sallam), one could say that in comparison to others amongst the early Muslim women, her life was relatively unremarkable. She grew up during a difficult time for her parents, when her father was being publicly mocked and derided for preaching his message; she lost her mother at a relatively young age, and she married her cousin Ali ibn Abi Talib when she was about fifteen years old. Some of the most well-known ahadeeth related by her mention how physically demanding her lifestyle was, such that her hands would crack and bleed from the wheat-grinding that she used to do.

What made Fatimah so special? So special, in fact, that she will forever be known as one of the greatest women of Paradise?

Fatimah bint Muhammad is not known for an act of dramatic courage such as that displayed by Nusaybah bint Ka’b during the battle of Uhud, but she too provides an example for a situation that many Muslim women around the world have and continue to face: the everyday drudgery of life as a wife and mother.

Fatimah may have been the most beloved daughter to the Messenger of Allah, who was also the head of the Islamic State and leader of the Muslim army, but that didn’t mean that her life was one of luxury or ease.

Quite to the contrary, Fatimah was the mother of three young children and ran her household single-handedly. Life was difficult back then, with none of the technologies that smooth our way through tedious tasks today. She used to grind the wheat for her bread with her own hands, to the point that her hands would crack and bleed. Her husband, ‘Ali ibn Abi Talib, was an employee of one of the Ansaar, but the income was meager, and they struggled to survive on a daily basis.

One day, weary and despairing of the toll that their lifestyle was taking on her, Fatimah decided that she would approach her father, RasulAllah (sallAllahu ‘alayhi wa sallam). At the time, the Muslims had won a battle and a result, had captured several prisoners and other spoils of war. Reasoning that as a member of the Ummah, she was entitled to some relief, Fatimah went to visit one of RasulAllah’s homes. She did not find her father present, but seeing her stepmother A’ishah, Fatimah shared the story of her bleeding hands and her wish for a maidservant to take on a share of the burdens.
Fatimah went back to her home, and when RasulAllah returned to his own house, A’ishah told him about his daughter’s visit.
That same night, RasulAllah slipped into his daughter’s home, where she and ‘Ali were already lying in bed.

‘Ali narrates, “I wanted to get up, but the Prophet said, ‘Remain in your place.’ Then he sat down between us until I felt the coolness of his face on my chest. The Prophet said, ‘Shall I teach you a thing which is better than what you have asked me? When you go to bed, say, ‘Allahu Akbar’ thirty-four times, and ‘Subhan Allah’ thirty-three times, and ‘Alhamdulillah’ thirty-three times for that is better for you both than a servant.’” (Bukhari, Book #57, Hadith #55)

After this, Fatimah never repeated her request for a maid ever again.

It may seem to be a small, insignificant thing, but subhanAllah, this was one of the reasons for which Fatimah earned her position as one of the queens of Jannah. Her life was spent quietly serving her Lord, through her sincere intentions behind caring for her husband and children. Around her, there were many Sahabiyaat whose lives seemed much more exciting, full of adventure and grandeur. Her stepmother, A’ishah, was a great scholar; her great-aunt Safiyyah bint Abdul-Muttalib was fierce in battle; and the women of Medinah were renowned for their boldness in approaching any matter.

Nonetheless, for Fatimah bint RasulAllah, the path to Paradise was simple – though never easy.
For every stay-at-home-mother and housewife who feels that her life is too consumed by daily drudgery, who worries that her life is too dull to be of consequence, the quiet strength of Fatimah bint RasulAllah is an inspiration and a reminder that no deed, however small or seemingly insignificant, is overlooked by Allah, the Most Compassionate, the Most Just.

{For indeed, Allah does not allow to be lost the reward of those who do good.} (Surah Hud, verse 115)

Jannah is not only for the Prophets, the martyrs, the ascetics, or the scholars; Jannah is attainable by every Muslimah, no matter her occupation or station in life. In the Eyes of Allah, every sincere Muslim woman who pledges her life to pleasing her Lord is a heroine of Islam.

#ForgottenHeroines

Smartphone to kids, no or nay?

Apabila anak sulung saya menyuarakan kesedihannya kerana saya tidak membelikan beliau smartphone dan tidak membenarkan beliau menggunakan duit simpanannya bagi membeli sendiri, dengan alasan susah berhubung dan berbincang dengan rakan-rakan sebab semua menggunakan Whatsapp, saya kira beliau juga sudah cukup bersedia untuk saya jelaskan sebabnya.

Pada pandangan saya, ibu bapa yang memberi anak-anak smartphone pada usia 12 tahun, dengan kemudahan data, mereka telah mengambil langkah yang sangat salah.

Saya tanya anak saya tadi, “Yop rasa, kawan-kawan Yop, jika dalam telefon mereka keluar video perempuan telanjang, gambar lelaki perempuan telanjang, rasanya kawan-kawan Yop akan delete dan elak tengok, atau bagaimana?”

Anak saya tak boleh jawab.

Dan saya tanya lagi, jika dia sendiri adakah jiwanya cukup kuat untuk mengelak bahan lucah, judi atas talian, game atas talian, beliau menggelengkan kepala.

“Kalau Yop terjebak dengan benda-benda ni, Abi tak mampu tolong Yop sampai bila-bila. Yop akan berdosa setiap hari sampai dewasa, sampai mati. Abi tak nak Yop fikir Abi ni kolot, mengongkong, kedekut, I do this simply because I love you and I want to protect you”

Saya tidak berani mengaku yang saya ini techno savvy. Tetapi saya tidak buta teknologi. Saya mengendalikan website era pra blog semenjak 1997, menggunakan Palm VI seawal 1998 hingga ke era Samsung Galaxy S4 pada tahun 2013 dan iPad Air pada tahun 2014. Saya sentiasa mengikuti perkembangan ICT biar pun hanya bertaraf pengguna. Saya sentiasa pastikan diri saya pengguna celik. Bukan guna tetapi tidak sedar akan implikasi penggunaannya kepada fizikal, kognitif, emosi, sosial dan keberagamaan anak-anak kita. Saya berkongsi pesanan ini bukanlah sebagai ustaz cabuk pengguna telefon cap ayam.

Cukuplah dengan keterlanjuran kita membuka akaun Facebook untuk anak-anak sekolah rendah dengan menipu Zuckerberg akan tarikh lahir mereka. Ada sebab kanak-kanak di bawah usia 13 tahun dianggap belum wajar mempunyai akaun Facebook. Tetapi dengan memberi smartphone bersama peruntukan data, ibu bapa sesungguhnya menghantar anak-anak ke gigi NERAKA.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan ahli keluargamu daripada Neraka. Ia dikawal oleh para Malaikat yang amat ganas dan keras, malah tidak sama sekali mengingkari Allah berkenaan apa yang diperintahkan ke atas mereka melakukannya” [al-Tahrim 66: 6]

Ibu bapa yang mencucuh putung rokok ke tubuh anak dan seterika anak dengan seterika panas, kita kata mereka berhati binatang dan kejam. Tidak kejamkah ibu bapa yang memudahkan jalan anaknya dibakar api Neraka? Mendedahkan anak kepada ketagihan pornografi, games, kebusukan bahasa dan kecelaan akhlaq? Keselamatan, penjenayah siber, pedophile?

Jangan over confident wahai daddy and mommy. Seriously, have a mercy upon your kids but saving them from the Hellfire.

Harap penjelasan sambil makan sushi tadi membantu dan beliau boleh terima.

Di dalam catatan ini saya mahu menekankan tentang peer pressure. Jika ibu bapa faham sekali pun, anak-anak belum tentu faham. Mereka perlu difahamkan. Kepada ibu bapa yang sangat baik hati bagi anak umur 12 tahun smartphone sendiri, tolonglah fikir balik.

Baca buku Technopoly oleh Neil Postman.

Seriously!

——————- from Fauziah Mohd Noor FB——————

Tip Memarahi Anak Dengan Cinta

1. Istighfarlah sebelum memarahi.

Bila ‘marah’, itu suasana hati yang ‘manusiawi’. Ia sekelip mata boleh bertukar menjadi ‘syaitoni’. Tindakan ‘memarahi’ mesti bersama suasana hati yang bersih, bukan emosi tak terkendali. Istighfarlah.

2. Terangkan akibat setiap perbuatan, bukan ancaman menggunakan posisi kita yang lebih tinggi.

Contoh:

“Kalau adik tak patahkan barang kakak, nanti Allah sayang. Malaikat catat, adik ni baik. Pandai jaga barang kakaknya.”

Contoh ancaman:
“Hah gaduh? Nak kena tambat atas pokok!”

3. Ajak anak berjanji dengan Allah.

Contoh:

“Ummi tak suka marah kakak. Ummi suka senyum je untuk kakak. Tapi Ummi terpaksa marah kakak kalau kakak ada sebut perkataan tak soleh. Ummi malu dengan Allah kalau kita mungkir janji. Kitakan dah janji, nak jadi hamba Allah yang berakhlak mulia.”

4. Sesekali, ajar anak yang sering menganiaya adik beradiknya yang lain tentang ‘keadilan’. Ajarkan juga anak yang dianiaya tentang ‘kemaafan’.

Contoh:

Si adik suka tarik rambut abangnya.
Sesekali, pegang si adik dan serahkan kepada si abang, katakan, ” Orang yang tarik rambut orang, boleh ditarik rambutnya.”

Tapi sebelum si abang tu bertindak, bagi mind set kaw kaw dulu, ” Tapi, abang ni pemaaf kan? Abang tak nak tarik balik rambut adik, kan? Abang tetap sayang adik, kan?”

” Mari kita peluk dan berkasih sayang.”

5. Jangan melabel buruk dirinya.

Contoh:

“Dasar anak derhaka.”
“Bodoh!”
“Nakal!”

Lebih baik tukar kepada…
“Dasar ahli syurga firdaus.”
“Bakal ulama!!!”

6. Marahi kesalahannya sahaja, bukan keseluruhan dirinya.

Contoh:
Anak menangis dan mengoyakkan buku kerana kecewa hasilnya mewarna comot. Habis rumah bersepah dan ia mengundang marahnya ibu.

Katakan padanya,
“Masa umi kecil dulupun, umi mewarna comot juga. Tapi umi cuba lagi sampai dapat. Kakak bukannya tak pandai mewarna, tapi Allah nak kakak cuba lagi.”

Contoh melabel keseluruhan:
“Bodoh sombong.”

7.Pastikan tindakan ‘memarahi’ berakhir dengan menyejukkan emosinya. Jelaskan padanya, “Ummi dan Abi sangat sayangkan
kakak kerana Allah.”

:’)

Sebarkan bahagia